Tapi, sejatinya apa ?
Bolehkah kami mengimani takdir yang baik saja ?
Bolehkah kami menolak takdir yang buruk sejauh-jauhnya ?
Takdir bisa dibilang kayak jaring-jaring makanan raksasa.
Eits. Bukan berarti hubungan yang terjalin berupa mangsa dan pemangsa. Serupa, tapi tak sama. Jaring-jaring makanan berperan untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Jika sesuatu terjadi pada salah satu komponen, rusak sudah tatanan ekosistem yang ada. Sama halnya dengan takdir. Takdir manusia yang satu dengan yang lain itu saling berkelindan. Apa-apa yang kamu kerjakan, secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi lingkungan fisik dan non-fisikmu.
Mengimani takdir itu perlu.
Wajib, malah.
Jangan dipilah-pilah.
Menerima, membuat hidupmu terasa lapang.
Menolak, membuat hidup terasa terhimpit.
Bersikaplah di tengah-tengah.
Saat takdir baik menyapa, jangan jumawa mengatakan,
"Ah, ini semua berkat ketaqwaanku pada-Nya".
Pun saat takdir buruk menyapa,
jangan dengan lantang memaki,
"Tak lihatkah Kau, Tuan ? Aku terlunta. Aku terhina di mata manusia-Mu. Apa-apa yang kulakukan ternyata sia-sia belaka."
Atas apa-apa yang menimpamu, jangan mudah mengkambinghitamkan Tuhan-mu.
Mau kau diserupakan dengan kambing hitam oleh-Nya ?
Komentar
Posting Komentar