I N I A K U


SETELAH KAU BACA INI, TERSERAH PADAMU


Ini aku, perempuan biasa yang terlahir dari keluarga sederhana. Sederhana,bila dilihat dari kondisi ekonomi. Tapi tidak untuk untuk bentuk hubungan yang terjalin di antara anggota keluaraga, kurasa.

Ini aku, perempuan yang tergila-gila pada angka 1 dan 6 yang menjadi hari kelahirannya.

Ini aku, perempuan yang ‘dipaksa’ dewasa sebelum waktunya.

Ini aku, perempuan yang pernah mengalami perundungan saat teman sebaya bisa tertawa sepuas-puasnya.

Dan ya, ini aku. Perempuan yang mengidap Borderline Personality Disorder (BPD), yang diterjemahkan sebagai Gangguan Kepribadian Ambang (GKA).

Ini kisahku, aku tak memaksamu untuk membacanya.
Tapi, jika kau memutuskan untuk membacanya, kau berhasil membuatku bahagia.
Jika di akhir tulisan kau tetap setia, aku benar-benar merasa istimewa !

Aku tak pernah menyangka akan bertemu dengan dia (baca: BPD) di usiaku yang belum memasuki paruh baya. Dia kurasa hadir secara tiba-tiba. Ah, ralat. Mungkin tidak tiba-tiba, hanya aku saja yang terlambat menyadarinya.

Aku kerap merasa ganjil atas hidup yang kujalani. Sekali-dua kali, aku sanggup mengenyahkannya. Tapi kalau berulang kali ? Mana sanggup aku mengacuhkannya.

Kehadirannya berhasil membuatku merasa, apa-apa yang seharusnya tak perlu dirasa. Rasa hampa, tak berguna, kecewa adalah rasa yang akrab menemaniku. Sesekali aku juga dihinggapi rasa marah teramat sangat dan sedih yang menyayat-nyawat. Seolah hidupku penuh nestapa, tak ada harapan yang tersisa.
Dan masih karenanya, aku menjadi sulit mempertahankan relasi dengan sesiapa pun. Pasalnya, di satu waktu aku sangat memuja mereka. Di waktu yang lain, aku sanggup mencerca mereka. Tak jarang sumpah serapah terucap untuk mereka.

Ah, tak tahukah mereka ? Aku benar-benar menyayangi mereka. Aku tak sanggup menerima penolakan dari mereka (sekalipun dalam urusan yang teramat remeh di mata mereka), aku tak suka diabaikan oleh mereka (meski kutahu mereka tak benar-benar melakukannya) dan aku sangat bergantung pada mereka (ya, karena mereka kuanggap sebagai pemberi rasa aman, nyaman, mendamaikan, bahkan tak jarang menghadirkan inspirasi). Tapi di sisi lain, aku takut menjadi beban kasat mata mereka. Aku takut membuat mereka terluka. Aku takut membuat mereka kecewa. Sehingga aku lebih sering mengisolasi diri dari mereka, saat aku merasa diriku tak pantas untuk mereka. Sialnya, saat aku mengisolasi diri, bukan ketenangan yang kurasa. Aku malah kecewa. Sebab aku merasa mereka bahagia, berhasil menjadikanku tiada.

Sampai detik ini, aku masih mencoba menemukan pola interaksi yang sehat untukku dan mereka. Sesekali aku pernah menyampaikan gagasan, tapi mereka terlihat enggan. Mungkin mereka memang belum paham. Atau aku kurang sabar untuk memahamkan mereka.

Oh ayolah, mengapa mereka tidak ikuti saja peraturan yang aku buat. Ini tidak semenyeramkan yang mereka kira, padahal. Ini justru membantu kami untuk menjalin relasi yang sehat. Mari, aku tunjukkan :
1.     Membuat batasan yang ‘sehat’
Misal: aku boleh menghubungi kalian kapan, jadi saat kalian tidak membalas pesanku di luar waktu itu, aku nggak akan berpikiran yang buruk tentang kalian. Dan kalian masih punya banyak waktu untuuk menjalani kehidupan normal kalian. Atau, apa-apa saja yang boleh aku bicarakan dengan kalian, permintaan seperti apa yang kalian bisa wujudkan dan jenis bantuan apa yang bisa kalian upayakan, di luar dari itu semua, aku akan berusaha untuk lebih mengandalkan kemampuan diriku.
2.     Saat aku memberi kode ‘lelah’ atau ‘menyerah’
Kumohon kalian jangan langsung menghakimiku. Aku punya pemikiran yang kompleks. Menghadapi suatu perkara yang remeh di mata kalian, itu bisa benar-benar menguras energi yang aku punya. Dalam fase ini aku hanya ingin kalian dengar. Dan kalau aku memang memerlukan bantuan, aku pasti mengutarakannya pada kalian. Jadi, sabarlah menunggu.

Mungkin, ini pertanyaan yang tersisa di benak kalian.
Apa aku benar-benar pengidap Borderline Personality Disorder (BPD) ?

Jawabannya, iya.

Semula aku mendiagnosis diriku sendiri, setelah browsing mengenai gejala-gejala yang kerap kualami dan ternyata itu adalah gejala BPD. Dari 9 gejala yang ada, aku punya punya semuanya !
  • Merasa khawatir akan ditinggalkan oleh orang-orang terdekatku (meskipun sering sebatas pemikiranku saja).
  • Memiliki emosi yang sangat intens dan berubah sangat cepat.
  • Tidak memiliki ‘gambaran’ diri yang stabil. Dalam satu waktu aku bisa sangat percaya diri, di lain waktu aku merasa sangat tidak berguna sekali.
  • Aku kesulitan untuk menjaga hubungan agar tetap stabil, dari hubungan pertemanan, keluarga bahkan asmara. Selalu ada up and down yang parah banget.
  • Aku merasa hampa hampir sepanjang waktu, terutama saat aku benar-benar ‘menganggur’.
  • Aku sering bertindak impulsif, seperti: mengendarai motor di batas kecepatan yang biasa aku lakukan, membeli barang yang tidak benar-benar aku butuhkan, sampai yang terparah aku memutuskan berhenti melanjutkan tugas akhir.
  • Aku sering melukai diriku sendiri, terutama saat aku marah. Biasanya aku akan menonjok dinding atau menggaruk dengan ‘lebay’ luka-luka akibat alergi yang aku derita. Ada kepuasan tersendiri saat melakukan itu semua. Di samping itu, aku kerap memikirkan ‘bagaimana bunuh diri yang tidak menyakitkan’.
  • Aku kesulitan untuk mengontrol rasa marah !
  • Aku sering ngerasa parno atau pun disosiatif saat mengalami stress.

Karena aku tahu bahaya yang ditimbulkan oleh ‘self-diagnose’, aku memutuskan untuk mencari bantuan. Aku mendatangi seorang psikolog, sempat ngerasa senang karena ada yang mengerti, tapi dia nggak memberikanku justifikasi. Lalu, aku mendatangi seorang psikiater, awalnya dia enggan menanggapi, setelah kudesak dia mengiyakan aku menderita BPD. Apa itu cukup ? Enggak. Aku ngerasa aneh dengan layanan yang diberikan oleh salah satu rumah sakit ternama di kota tempat aku berkuliah itu. Masa iya, aku –si pasien- tidak diberikan intrumen apa pun. Lantas, apa yang menjadi dasar mereka ?

Terus, mengapa aku merasa orang-orang sepertiku yang notabene awere dengan kondisi mental, malah dipandang sebelah mata oleh staf pelayanan kesehatan sekali pun. Bukannya tindakan preventif lebih penting, dibandingkan tindakan kuratif ? Ah, aku bingung dengan pola pikir mereka !

Sampai detik ini aku berusaha menyembuhkan diriku sendiri. Bermodal keinginan yang kuat untuk sembuh, sebab aku merasa kasihan kelak suamiku menjadi repot bila harus menjadi care giver juga. Selain itu, aku takut menurunkan kondisi ini kepada anak-anaku kelak. Jadi, aku memutuskan untuk mempraktikkan apa yang ada di buku Thoughts and Feelings  dan DBT Skills Training Manual. Aku benci jika harus mengonsumsi obat seumur hidup (karena masih ada penyakit lain yang kuderita dan perlu mengonsumsi obat sewaktu-waktu, haha).

Terima kasih, telah meluangkan waktu untuk membaca.
Terima kasih, telah menganggapku ada.
Terima kasih, telah menumbuhkan asa dalam jiwa.    

Komentar