Saat Cowok Ditanya Apa Motif Mereka Bekerja

Baru-baru ini saya mengadakan survey sederhana mengenai apa sih motif kamu mencari kerja ? Pertanyaan ini saya lontarkan ke beberapa teman cowok yang saya miliki kontak WA-nya.

Ah, pasti kalian mikir gini kan “Kenapa mesti cowok yang ditanya ?”

Alasannya sederhana sih, dalam agama kita (aku seorang muslimah, jika kamu penganut agama Islam, tentu akan menjadi kita, bukan ? hehe) cowok/laki-laki/pria/bani Adam atau apa pun sebutannya memiliki kedudukan penting dalam kegiatan muamalah. Tidak lain dan tidak bukan adalah pernyataan di dalam Q.S. An-Nisa ayat 34, yang menyatakan jika laki-laki adalah pemimpin atas perempuan. Pemimpin di sini bisa kalian artikan bebas, entah kepala rumah tangga, kepala divisi, ketua RT, ketua kelompok, bahkan presiden sekali pun.

Tahu kan fungsi pemimpin ? Ya, tentu saja memimpin ! Selain itu ? Kurasa mengayomi adalah peran yang melekat secara otomatis pada sosok pemimpin. Mengayomi identik dengan bagaimana cara memberikan perlindungan dan memenuhi kebutuhan pada orang yang ia ayomi. Contoh sederhananya, seorang laki-laki yang berada di dalam rumah tangganya. Dia berkewajiban untuk mengayomi istri, anak-anak, serta orang lain yang ikut tinggal bersamanya. Mengayomi yang kumaksud di sini lebih mengarah pada kegiatan memenuhi kebutuhan.

Berbicara soal kebutuhan, agaknya tak bisa dilepaskan dari uang. Pasalnya, hampir semuah kebutuhan baru bisa dipenuhi jika telah membayarkan sejumlah uang atasnya. Lalu, terbitlah pertanyaan, “Dari mana uang diperoleh ?” Di luar tindakan amoral yang dialukan sebagian orang (baca: memalak, mencuri, merampok, dan sebagainya), uang diperoleh dari aktivitas bekerja.

Nah, yang menjadi pembahasan menarik, “Apa yang menjadi motif saat mencari kerja ?” Dari delapan orang yang aku lontarkan pertanyaan tersebut, setidaknya ada tiga motif utama dalam mencari pekerjaan. Apa saja motif yang mereka utarakan ? Yuk, kita cermati satu per satu.

Pertama: motif ekonomi, alias bekerja untuk mendapatkan uang.
Di dunia yang makin materialistis ini, orang-orang berlomba untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah sebanyak yang mereka bisa. Tidak ada yang salah dengan motif ini, selama apa-apa yang mereka (kebetulan mereka juga seorang muslim) kerjakan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip yang Islam ajarkan. Biasanya, orang yang menjadikan uang sebagai motif utama dalam mencari pekerjaan adalah mereka yang amat disiplin dan hemat dalam mengelola uang. Bagi mereka waktu adalah uang. Sebisa mungkin mereka menghabiskan waktu yang mereka punya untuk melakukan kegiatan produktif (baca: kegiatan yang menghasilkan uang).

Kedua: motif moral, alias bekerja untuk menjalankan perannya sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Orang-orang yang mengedepankan konsep moral dalam mencari pekerjaan adalah mereka yang mengerti benar terhadap tujuan mereka diciptakan. Mereka yang bekerja karena motif ini umumnya didominasi oleh orang-orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam di keseharian mereka, ditandai dengan upaya selalu menebar manfaat kepada sesama dan memakmurkan lingkungan sekitar. Termasuk di dalamnya, mereka yang tengah menjadi pejuang mahar untuk segera melamar gadis shalihah yang menjadi idamanan guna mewujudkan pernikahan sesuai sunnah.

Ketiga: motif aktualisasi diri, alias bekerja untuk mengoptimalkan potensi yang ada pada diri.
Selain kedua motif di atas, aktualisasi diri ternyata masih menjadi motif utama bagi sebagian orang. Posisi ini biasanya diisi oleh mereka yang haus akan pengalaman dan sedang mencari jenjak karir yang tepat untuk mereka tapaki. Terkadang bagi mereka, uang bukanlah yang utama, asalkan mereka memperoleh pengalaman berharga dan relasi layaknya keluarga. Mereka sangat adaptif dan mampu menciptakan zona nyaman mereka sendiri meski di situasi buruk sekali pun.

Demikian kesimpulan yang kubuat berdasarkan obrolan dengan mereka. Obrolan yang ‘hangat’ serta mencerahkan. Dan ya, mereka adalah kawan yang mengagumkan !

Komentar